Tampilkan postingan dengan label Industri Musik Indonesia Melemah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Industri Musik Indonesia Melemah. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Agustus 2012

Fakta Boyband dan Girlband di Indonesia

Pagi-pagi gw udah dibikin shock sama penampilan salah satu boyband indonesia di tv. Bikin gw nepok jidat saking shocknya. Entah kenapa dan sorry2 aja buat para penggemar boyband Indonesia, tapi gayanya terkesan jijay, norak, dan terlalu dibuat-buat.

Yeah, Indonesia sepertinya sedang dilanda demam Boyband dan Girlband. Sejujurnya, awal kemunuculan Boyband lagi di Indonesia yang diawali dengan kemunculan Smash, gw gak merasa gimana-gimana. Toh, mereka basicly emang udah pada bagus-bagus suaranya. Tapi makin kesini, pengikut-pengikut jejak mereka untuk kembali hadir di kancah musik Indonesia sebagai Boyband malah membuat miring pendapat gw tentang Boyband dan Girlband di Indonesia.
Boyband dan Girlband yang kini sudah bermunculan bikin gw sering geleng-geleng sendiri melihat penampilan mereka. Hmmm, gimana yah..yang terlihat malah mereka adalah produk musik instan dari perusahaan-perusahaan recording dan manajemen-manajemen artis yang mengorbitkan mereka.
Gw cuma pengen sekedar membagi pengetahuan gw tentang Boyband dan Girlband. Yang gw tau, untuk menjadi BB and GB di luar negeri itu ada proses audisinya sendiri. Dimana audisi itu bukanlah audisi yang mudah yang hanya melihat “oh ok, lo punya tampang, masalah teknik vokal and dance gampanglah diatur belakangan.” Helloooooo, yang diutamakan di luar negeri adalah justru masalah vokalitas dan lo bisa dance atau tidak dan apakah lo punya “something” dalam diri lo yang pantes membuat lo jadi bintang. Masalah tampang malah menjadi hal yang kesekian, that’s why gak ada personil boyband atau girlband yang lolos dari operasi plastik untuk memperindah tampang mereka setelah mereka lolos audisi dan masuk masa training.
Berbicara tentang masa training, masa training ini adalah justru yang menjadi masa-masa penentuan buat seorang calon artis dari manajemen atau perusahaan recording itu apakah dia pantas untuk diorbitkan. So, lolos audisi bukan berarti udah aman kayak disini.
Dalam masa-masa training itu mereka (selanjutnya disebut trainee) dipoles lagi vokalnya, teknik dance’nya, dilatih agar mereka bisa bernyanyi sambil dance dengan gerakan-gerakan yang rumit tapi tidak akan mengganggu kualitas vokal mereka saat perform, dikasih pelatihan kepribadian, akting, diajarin gimana cara ber-fashion, dilihat apakah si trainee bisa berbaur dengan yang lainnya atau tidak, bagaimana mereka dalam grup, dll untuk memadatkan kemampuan yang mereka miliki dan membentuk image positif dari trainee tersebut. Dan perlu diketahui yah, masa-masa training ini bisa berlangsung lebih dari setahun kalo emang dari pihak manajemen menganggap calon artis belom bisa untuk di orbitkan. Jadi tidak instant seperti yang sedang terjadi di Indonesia sekarang. Itu faktanya karena setelah kemunculan Smash, tiba-tiba udah ada aja boyband di tv yang entah konsep musiknya apa, karakternya apa, gak jelas!!!
Bahkan ada boyband yang gw liat bener2 menjiplak abis video clip dan penampilan dari salahsatu boyband korea 2PM. Niyh contoh salah satu MV dari 2PM dan perhatiin stylenya, pasti udah bisa langsung matching ke boyband yang mana niruin mereka.

Walau begitu, gk bisa dipungkiri kalau kemunculan-kemunculan para boyband dan girlband ini sebenarnya memang bisa meramaikan dunia musik Indonesia. Tapi apa iya harus diramaikan dengan BB and GB yang kebanyakan tidak berkualitas baik dari segi suara, dance, stage performance (masih menggunakan sistem lipsync), dan penampilan yang terkesan jadi norak karena kalo orang Jawa bilang “ketok tenan njiplake”, jiplak BB and GB di luar negeri khususnya BB and GB dari Korea/ Japan. Kenapa mereka gk bikin image or style sendiri yah?? Kreatif dong ah ..



Sumber http://nkslytherin.wordpress.com/2011/10/19/fakta-boyband-dan-girlband-di-indonesia/

Lagu Zaman Sekarang Seragam dan Membosankan

Kabar gembira bagi para penikmat musik yang berusia di atas 35 tahun. Sebuah penelitian terbaru mengindentifikasi musik modern sebagai musik yang hanya semakin nyaring tapi terdengar membosankan. Musik zaman dulu (jadul) mungkin terdengar lebih enak.

Sebuah tim penelitian yang dipimpin pakar kecerdasan buatan Joan Serra dari Dewan Riset Nasional Spanyol mempelajari lagu-lagu pop yang diciptakan selama kurun 1955-2010. Mereka membedah konten audio dan lirik lagu, lalu mengubahnya menjadi data yang dapat diolah. Ribuan koleksi lagu diambil dari arsip besar bernama Million Song Dataset.

Serra dan rekan-rekannya mempelajari musik yang beredar selama 50 tahun terakhir menggunakan sejumlah algoritma rumit. Mereka menemukan bahwa lagu-lagu pop secara intrinsik menjadi lebih nyaring dan hambar dari segi kunci nada, melodi dan jenis suara yang digunakan.

"Kami menemukan bukti terjadinya homogenisasi progresif terhadap musik," kata Serra seperti dikutip Reuters, Sabtu, 28 Juli 2012.

Tim penelitian yang dipimpinnya secara khusus memperoleh sejumlah indikator numerik yang menunjukkan keragaman transisi antara kombinasi nada. Hasilnya memang cukup mengejutkan. "Keragaman kunci nada dan melodi secara konsisten berkurang dalam 50 tahun terakhir," ujar dia.

Mereka juga menemukan warna suara dalam perkembangan musik modern juga semakin miskin. Padahal nada yang sama dimainkan pada volume yang sama pada piano dan gitar akan menghasilkan warna suara yang berbeda.

"Kami menemukan musik modern, seperti pop, memiliki variasi warna suara yang terbatas," ujar Serra.

Musik modern juga terdengar semakin nyaring. Kenyaringan intrinsik, Serra mengatakan, adalah besaran volume yang dimasukkan ke sebuah lagu sewaktu direkam. Setelan volume ini dapat membuat suatu lagu terdengar lebih keras dari lagu lainnya bahkan pada pengaturan volume yang sama pada peranti pengatur suara (amplifier).

Serra mengatakan pengubahan setelan berpengaruh banyak terhadap kualitas suatu lagu. Ia mencontohkan, lagu-lagu jadul yang direkam ulang dengan kenyaringan volume yang ditingkatkan, progresi kunci nada yang lebih sederhana, dan instrumen musik yang berbeda bisa terdengar baru dan lebih modis.

Lalu siapa pihak yang bertanggung jawab atas "melorotnya" kualitas musik modern selama setengah abad terakhir?

Industri musik telah lama dituding sebagai pihak yang sering mendongkrak setelan volume saat suatu lagu direkam. Tapi Serra mengatakan ini adalah pertama kalinya dugaan memburuknya kualitas musik modern ditopang hasil penelitian ilmiah.

Penelitian Serra dan rekan-rekannya, yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports, dapat dijadikan resep berguna bagi para musikus untuk mencegah keringnya kreativitas dalam menciptakan dan mengaransemen musik.

sumber TEMPO.CO

2012: Industri Musik Indonesia Melemah dan Besarnya Peran Socmed

2012: Industri Musik Indonesia Melemah


Beberapa tahun terakhir, musik Indonesia mengalami perkembangan. Namun, tahun 2012 kondisi industrinya terus melemah, bahkan diprediksi justru akan tenggelam.

Secara musisi, perkembangan musik Indonesia masih bisa bertahan. Artinya, masih banyak musisi yang berusaha menunjukkan eksistensinya. Tapi, bisa saja kembali seperti era 90-an,di mana musik Indonesia mengalami kelesuan dan salah satu penyebabnya adalah maraknya pembajakan. Memasuki 2012, secara industri, musik Indonesia mungkin mengalami stagnan.

Asumsinya, era 90-an musik Indonesia dimeriahkan oleh pembajak, para pelaku yang tak bertanggung jawab ini tanpa dosa mengambil karya orang lain. Kondisi ini menjadi sulit bagi pelaku industri dan musisi untuk menghasilkan sebuah karya kreatif. Nah, majunya musik Indonesia belakangan ini terjadi karena industri melirik ring back tone (RBT) sebagai peluang yang dapat kembali industri musik di Tanah Air.

Hasilnya,industri dan musisi pun kembali menggeliat. Sayang, fenomena itu mulai memudar. RBT tidak bisa diandalkan untuk jangka waktu panjang. Belakangan RBT terjun bebas. Kondisi ini membuat industri mulai sulit. Para pelaku industri mulai mencari formula untuk tetap mempertahankan eksistensinya, paling tidak bisa bertahan. Direktur PT AS Industri Rekaman Indonesia (Asirindo) Jusak I Sutiono mengakui, saat ini kondisi industri musik di Tanah Air sedang sulit.

Sumber pemasukan utama selama ini dari RBT sudah mengalami penurunan drastis. ”Sejak Oktober hingga Desember (2011) pemasukan dari RBT tak sampai 10%. Padahal sebelum ada kasus,RBT ini bisa menyumbangkan pemasukan hingga 90% kepada industri,” kata Jusak Menurut dia, jika proyeksi pemasukan dari RBT tahun ini tidak akan bisa tercapai, pada awal 2012 merosot tajam. Bos perusahaan rekaman Warner Music Indonesia ini sempat mematok pemasukan hingga Rp500 miliar.

Tapi sejak tidak beroperasinya RBT, dia menaksir, pemasukan tahun ini kurang dari Rp400 miliar. Proyeksi awal tahun ini, dilihat dari menaiknya tren pemasukan dari RBT setiap tahun. Tahun lalu saja,pemasukan dari RBT secara total mencapai Rp350 miliar. ”Melihat kondisi seperti sekarang, rasanya kita harus mulai memikirkan cara baru agar bisa tetap hidup pada tahun depan,”ujarnya.

Salah satu agar industri musik tetap bertahan dan berkembang dengan menggandeng berbagai pihak yang memang fokus untuk mengembangkan industri musik. Dalam hal ini, Asosiasi Rekaman Indonesia (Asiri) bekerja sama dengan Recording Industry Association of Malaysia (RIM). Masuknya negara tetangga ini ke dunia musik Indonesia lebih kepada mengatur pengambilan hak penampilan (performing right).Kerja sama ini nantinya akan mengembangkan sistem lisensi di Indonesia.

Ketua Umum RIM Norman Abdul Halim mengatakan, kerja sama bilateral ini diharapkan bisa bermanfaat bagi kedua pihak.Dia mengatakan, selama ini pihaknya cukup berhasil memompa pemasukan bagi para industri rekaman. Tahun lalu, kata Norman, pemasukan di dunia musik di Malaysia menembus angka USD25 juta. Dari jumlah tersebut, kata dia, separuhnya masuk ke pihak industri rekaman (sound recording).Separuh lainnya diterima pihak pencipta lagu dan artis.

Dari angka USD25 juta itu, Norman mengaku,sekitar 10% diterima oleh perusahaan rekaman Indonesia. Pemasukan ini didapat karena beredarnya lagu-lagu karya anak bangsa di tempat-tempat umum. ”Kurang lebihnya ada sebanyak USD600.000 yang pergi ke Indonesia,”ujarnya. Kerja sama yang dilakukan Asirindo dan RIM, perkembangan industri musik Indonesia menemukan titik cerah. Asirindo mematok pendapatan sebesar USD5–6 juta. Asumsi angka tersebut dilihat dari keanggotaan Asirindo sebanyak 70 perusahaan rekaman.

Peran Media Sosial

Perkembangan musik pada 2012, diakui musikus jazz Syaharani, akan diwarnai dengan besarnya peran social media. Internet dan media sosial adalah arus terbesar yang bisa mengubah pergulatan industri musik serta menjadi media yang mampu memuat pandangan baru masyarakat, dengan tidak terbatas luasnya. ”Saya yakin, akan semakin canggih pada 2012.

Karena, peminat internet akan terus bertambah dan minat berinternet secara lebih skill full juga pasti bertambah,”ungkapnya. Lewat peran social media juga, penikmat musik Indonesia banyak yang akan berubah attitude-nya. ”Perubahan attitude penikmat musik ini pula yang akan mengubah industri musik kita.Seberapa jauh perubahannya, akan sangat terasa nanti,”ujar Syaharani. [wida ns]

TAUTAN: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/451968/

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Dcreators